Jumat, 19 Februari 2021

Raga tak bernyawa

Malam menyapa tak ada guna
Sebab luka tancap terlalu dalam
Bahasa tubuh tak mampu dipahami
Oleh karena maaf tak bisa

diberi lagi
Hanya satu dari seribu yang diinginkan
Namun peka tak juga digunakan
Apalah daya, 
Berjalan semaunya, 
Berlari sebisanya, 
Tak juga lihat dibelakang
Ada apa??? 
Terluka tapi ditahan
Terpaku duri namun hanya diam, 
Hening.. 
Sekali lagi peka tak juga digunakan
Sedang hati terus ditawar luka
Beban terus menginjak otak
Kau berlari dengan hati tenang 
Aku menatap dengan mata berlinang
Hingga diri siap beradaptasi
Dengan kekosongan, 
Kehampaan, 
Tak ada satu juga tersisa
Kau mainkan perananmu
Meski tak sadar posisi, 
Namun tawa terus hujani, 

Bahagia??
Bangga? 
Duniamu menghancurkan ragaku
Disana-sini terlilit penyesalan
Hingga napas mau tak mau
Punya raga tak lagi bernyawa








Rabu, 10 Februari 2021

Rindu Dalam Senja

Aku tak mengerti kenapa ada kata rindu dalam kamus bahasa Indonesia, aku hanya bisa memaknai kata rindu dengan hasrat ingin bertemu. Pertemuan singkat meski tanpa kata terucap dibibir, namun mata berbicara dalam penglihatannya. 
Seperti itulah rindu yang terus berteriak dalam jiwaku..  Aku kehilangan kesempatan untuk itu saat aku sadar bahwa sekali lagi waktu mencoba bermain undi-undian denganku.. 
Aku mengalah, tak ada jawaban yang bisa kuberikan, 
Sekali lagi

masih tentang keadaan. 
Hingga akhirnya aku ragu pada senja yang tidak pernah bosan menunjukan keindahannya, apakah dia tulus sedang bekerja atau hanya sedang menggoda para insan yang saling merindukan satu sama lain seperti yang ku alami saat ini. 
Meski aku sadar bahwa bersamamu lebih indah dari menatap senja yang tak pernah berkata tujuannya. Namun tak bisa dipungkiri lagi  bahwa setiap saat ketika senja, dia telah hadirkan kenangan waktu terindah saat bersama denganmu. 





Contoh Teks Karya Ilmiah Singkat

 ANALISIS PRAGMATIK DEIKSIS TEMPAT DAN WAKTU PADA CERPEN MAUKAH KAMU MENGAPUS BEKAS BIBIRNYA DI BIBIRKU DENGAN BIBIRMU BAB 1 Pendahuluan Cer...