Selasa, 28 April 2020

Jalan itu milik Kita

Bukan mauku saat itu, Bukan juga maumu.Keadaanlah yang menginginkan, berkonspirasi dengan ruang dan waktu untuk membatasi gerak-gerik kita. Aku sadar.. Aku tak punya kuasa menghentikan atau menyuruh waktu untuk berputar lebih cepat, bahkan aku tak punya hak mendesak ruang agar tidak menjadi pembatas.
 Tapi aku bisa,membuktikan kepada mereka, kalau aku bisa bertahan dalam kekuasaan mereka..
 Kata siapa mereka kuat? Kata siapa mereka punya hak untuk terus menyiksa kita?
Kau ada aku sama-sama tau, kita harus berjalan dikerikil-kerikil kecil ini, meski kita harus terantuk pada kerikil yang sama,, bukan berarti kita harus jatuh ditengah jalan.. Kita masih punya kekuatan untuk berdiri tegak,berjalan sekali lagi agar tiba di penghujung jalan.
Sekali lagi, jangan berhenti Di sini,pintaku.. Berjuanglah bersamaku, melewati setiap waktu yang akan terbuang sia-sia tanpamu.
Karena aku yakin Selama itu bersamamu, maka jalan itu milik kita.


Jumat, 10 April 2020

Paska 2020

Paska tanpa altar
Paska tanpa pembasuhan
Paska tanpa pengecupan
Paska tanpa cahaya lilin

Komuni batin
Cukup menghayati
Meski tak lengkap
Namun percaya
Dia hadir
Tinggal dalam hati
Menjadi penguat utuh

Dunia berduka
Bersama Dia
Namun akan bangkit
Bersama dia

Senin, 06 April 2020

Ketika Senja Pantai Tanahling

Senja dipantai itu. Aku tidak ingin mengerti lebih banyak tentangnya. Aku hanya ingin mengerti bagaimana laut itu mengisahkan ketenangannya ditengah hiruk pikuknya nelayan yang berusaha mengganggu isinya. Memancarkan keindahan dengan bekas-bekas senja yang masih terlihat jelas. Tidak hanya itu. Ada karang tua berlumut yang setia menunggu surutnya.  Meski kadang terus menunggu diwaktu yang tak pasti.
Iyaa..... Aku benar-benar merasakannya.... Keindahan, ketenangan, kenyamanan...
   Dibalik kedamaian surga yang nyata itu, ada sejarah yang tercipta, sejarah yang terlukis sejak laut itu terbentuk.. Cucuran keringat yang meleleh sang nelayan,  suara tangisan yang tenggelam terbawa ombak, canda tawa  bocah-bocah  yang tak asing, yang menyelam dipermukaan laut. ada yang berlari-larian dan ada yang duduk termenung, entah memikirkan apa... Semuanya melepaskan dahaga yang mereka pikul sepanjang hari.
Aku teringat cerita-cerita orang. Cerita yang mungkin berlaku disetiap pantai.
Bukan sekedar cerita tapi itu seperti sebuah larangan. Dikala senja tiba, tak ada seorangpun yang berani menunjukan dirinya di pantai, meski hanya untuk bersantai-santai. entah kenapa larangan itu harus diadakan...kenapa harus menaruh curiga pada laut yang sudah memberikan harapan hidup kepada banyak orang. Bukankah semua ciptaan Tuhan itu baik adanya. Pertanyaan konyol yang tak membutuhkan jawaban kata orang. Ada banyak setan yang keliaran pada waktu seperti itu.  Iya asumsi seperti inilah yang sering didengar. Memberikan ketakutan luar biasa bagi mereka yang tak biasa. Sampai saat ini pun masih ada sisi keraguan campur ketakutan dalam diriku tentang hal itu.
Terlepas dari semua itu, Aku tak mau mengganggu keraguanku dengan kedamaian yang kudapati dari senja dipantai itu. Kadang aku berpikir, betapa baikNya Dia yang masih memberikan karyaNya dinikmati oleh Manusia. walaupun terkadang Manusia tak menghargai pemberianNya dan malah berusaha merusaknya.
Aku menikmati semuanya. Menikmati cakrawala yang dihiasi oleh memerahnya senja akibat sunset. Aku menikmati burung-burung yang lewat entah dari mana datangnya. Aku menikmati jejak-jejak kaki yang membesar dipasir itu. Jejak kehidupan yang memberikan inspirasi bagi pengunjung pantai Tanahling. Itulah nama yang ku dengar orang sebut , nama sederhana yang diberikan hanya karena pantai itu berada dikawasan kampung Tanahling. Aku senang dengan nama itu. Karena nama itu adalah salah satu alasan bagiku untuk cepat-cepat kembali. Kembali pada setiap kenangan masa kecil hingga dewasaku.


Minggu, 05 April 2020

Bangkit



Sajak-sajak indah itu
Telah merangkul gelisahnya malam
Menyirnakan kepak burung
yang pernah bersiul
Memanjakan diri pada pohon

Diujung jalan itu
Telah dijejaki beribu cerita
Mengisahkan keraguan
yang pernah menjadi kerikil
Menyesatkan pikiran pada lorong

hening malam itu
Merujuk pada hati yang tenang
dendangkan syair keyakinan
Yang masih berkelana
Menggoda jiwa itu
Namun bukan sebatas angan
Mimpi tak hanya mimpi













Contoh Teks Karya Ilmiah Singkat

 ANALISIS PRAGMATIK DEIKSIS TEMPAT DAN WAKTU PADA CERPEN MAUKAH KAMU MENGAPUS BEKAS BIBIRNYA DI BIBIRKU DENGAN BIBIRMU BAB 1 Pendahuluan Cer...